Membuka Lembaran Baru
Sudah lebih dari seminggu kita melalui bulan Syawal dengan gegap gempita. Setelah sebulan lamanya kita berpuasa menahan lapar dan dahaga akhirnya kita dapat meraih kemenangan yang hakiki. Dengan tulus saya ucapkan

Menuju awal yang lebih baik
Tinggal menghitung beberapa hari lagi sebuah tanggung jawab besar dilimpahkan kepadaku. Walau terlihat hanya sebuah pendataan biasa, namun makna yang kurasa cukup besar. Haruyan, tepatnya Desa Pangembau Hilir Dalam, disanalah aku akan mememahami lebih dalam makna tentang hidup. Sebuah sisi lain kehidupan manusia Indonesia, yang terus berjuang melawan aliran roda kehidupan. Walaupun aku belum pernah kesana sekalipun namun sebelum mendapat tugas ini ada beberapa perasaan untuk melakukan sesuatu yang lebih bagi mereka. Walaupun terkadang aku pun belum tahu apa yang akan ku lakukan. Malam ini aku dalam keadaan bimbang, kebimbangan yang tak wajar mengenai diriku sendiri. Pantaskah apa yang telah kudapatkan selama ini? atas segala upaya dan usaha yang telah ku lakukan? masih ada perasaan terganjal dan tak bisa kuhilangkan. Entah sampai berapa lama, yang jelas ini bukan pertama kali, perasaan yang terus berulang dan terus mempertanyakan keberadaan ku saat ini. Entah sampai kapan………………………..
@ Borneo
Akhirnya datang pulalah kesempatan untuk merantau jauh dari rumah dan handai taulan. Setelah melewati hamparan lautan luas, gunung dan bukit yang menuulang akhirnya sampailah pada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa menghantarkan…….walah malah keterusan baca pembukaan UUD. Boleh diartikan perjalanan saya cukup lancar *meski delay 1 jam*. Setelah tiba di bandara Syamsuddin Noor sekitar pukul 5 WITA atau 4 WIB kebetulan bangArif sudah stand by di depan pintu kedatangan. Dengan kebetulan ayahnya ikut juga menjemput saya yang *urang udik nggak tau tempat di Kalsel*. Setelah salat ashar dan maghrib serta makan *siang ama malam jadi satu* akhirnya langsung lanjut menuju tempat tinggal Bang Arif di Kandangan. Lumayan jauh sekitar 3 jam dari Banjarmasin dan 2,5 jam dari Bandara. Akhirnya sampai pukul 12 malam waktu setempat dan bisa istirahaat…………zzzzzzzzzzzzzz..zzzzzzzzzzzzzzzzzzz
The Begining…..
“ Sebuah perjalanan telah di gariskan, langkah awal menuju masa depan”
Akhirnya hari dimana harus meninggalkan kampung halaman telah tiba, Insyaallah jam 13.40 pesawat ku berangkat menuju dunia baru *halah*. Sebuah dunia yang terasing bagi seluruh panca indera ku *mulai ngaco omongan neeh*. Dan sebuah hamparan dunia akan ku genggam di tangan ku *wah obatnya lagai habis neeh*.
Update: Hiks……hik gak bisa nonton Malang Kembali…
Cerita dari Barat bag. 02
Meneruskan tulisan yang sebelumnya serta memenuhi beberapa paksaan teman-teman yang pengen tahu segera kelanjutan ceritanya, maka dengan senyum terkembang dada terbusung dan tawa terbahak-bahak *belum minum obat cerita ini lanjuuuuuttt…….
Masih Hari Kedua lagi……
Dalam beberapa menit saja Pusdiklat BPN-RI berubah jadi pasar kaget. Mulai macamwajah, baju sampai suara bercampur.Hampir mirip TMII *Taman Mini Indonesia Ipung*
, mulai Sabang sampai Merauke ada di tempat yang sama jumlahnya 120 orang. Bagaimana nggak rame kan?????
Setelah ngobrol ngalur-ngidul dengan beberapa bapak-bapak (umur boleh muda tapi wajah udah kayak om-om ^_^ ). Panitia langsung ngumpulin semua peserta jadi satu. Trus dibagi-bagi menurut angkatan. Kebetulan aku ikut angkatan 68 bersamaan dengan Ipung ama Saher *kok bisa yaa…?????*. Setelah mereka ngumpulin para peserta dengan cambuk dan tongkat sambil bilang hush…hush…. *heeeee………….heeeeee……………* enggak lah bro n sis kan ada PBB *Pelatihan Berang-Berang* heee….hee… bukan baris berbaris tuh yang bener. Dan inilah puncaknya semua tas yang dibawa digeledah, semua barang berupa makanan, obat yang bukan resep dokter, air minum dan benda tajam harus dikeluarkan. Alasannya disini yang terpenting kebersamaan *satu untuk semua semua untuk satu* jadi makanan semua harus dapet *heeee. tadi liat dunkin dougnut bikin ngiler juga neeeh* khusus obat dan benda tajam ditarik takutnya nanti sewaktu pelatihan kalau peserta stress akhirnya ngambil jalan pintas dan *eng ing eng* makanya daripada panitia ambil risiko akhirnya jalan pencegahan lebih baik.
Awalnya aku sempat terbayang pelatihan ala militer yang fokus ke fisik, tapi ternyata seperti kata pepatah “nggak semua yang loe denger itu bener… yang bener cuma p******” *ngiklan sedikit*. Key setelah razia dan sedikit ceramah tentang nasionalisme *sebenarnya sih biasa2x aja tapi karena yang cerita pakai intonasi jadi bikin merinding* dan beberapa aktifitas berkaitan dengan kedisiplinan dll Wuih akhirnya diberikan juga waktu istirahat. Tapi itu hanya sementara, setelah malam malam harus kumpul untuk ngisi berbagai berkas baik biodata maupun yang lain-lain bahkan surat wasiat.
Sampai lupa karena sesuai dengan yang diinstruksikan sebelumnya biaya makan *3 kali sehari* dan penginapan ditanggung negara maka sejenak kami bisa bernafas lega *huuuft*, tapi urusan yang lain tanggung penumpang. Namun untuk urusan makan jangan harap bisa bersantai dan leha-leha. Meski pakai model prasmanan tetep spirit militerisme masih dijaga. Sesuai jadwal waktu yang disediakan peserta hanya diperbolehkan makan selama 15 menit kurang dari itu heeee…heeeee ada hadiah tak terduga
*senyum drakula…hiii…hiiii..*. Dan yang terpenting setiap mengakhiri kegiatan pada malam harinya selalu ditutup apel malam plus + plus. Apaaan plus-plus? ada deh stay on aja pasti tau nanti
Cerita dari Barat bag. 01
Setelah meningat janji akan melanjutkan cerita yang sebelumnya, sekaligus menimbang untuk membayar janji yang telah diucapkan maka dengan ini saya memutuskan (weleh kayak bikin perpu aja) untuk bercerita tentang beberapa pengalaman yang saya alami di barat tepatnya di Buitenzorg alias Bogor. Walaupun cuma beberapa hari namun kenangannya itu yang tak kan terlupakan. Digantikan uang triliunanpun rupiah tidak akan menggantikan (kalau dollar mau). Jadi begono …..eh…begini ceritanya…..(jeng…..jengg…)
Saat di perjalanan
Setelah berangkat dari Malang kota tercinta ku dengan derai air mata dan gerimis hujan (lebai mode on) akhirnya kutinggalkan kota yang menaungiku selama hampir 23 tahun lamanya. Suka dan duka yang takkan pernah terlupa oh Malang….. engkau takkan ku lupakan. Sayup-sayup terdengar suara nyanyian
"Tunggu aku.... di kota Malangku..... tempat labuhan.... semua mimpiku.....".
Okay kembali ke dunia nyata. Perjalanan dengan kereta Gajayana yang mulai berangkat pukul 17.15 wib cukup lancar alhamdulillah tiada halangan suatu apapun, meskipun setelah stasiun Kepanjen ada sedikit insiden yang cukup bikin orang jantungan. Kereta diharuskan berhenti dan melambatkan kecepatan karena ada longsor di sisi kanan rel kereta sehingga agak sedikit miring ke kanan. Awalnya agak kaget tapi sih serahkan pada Allah lah toh hidup ini pinjaman kita tidak tahu kapan akan dijemput-Nya.
Setelah beberapa saat kereta kembali normal dan perjalanan cukup lancar. Tak ada peristiwa aneh hanya saja aku yang dari tadi berdoa mengharapkan, ya Allah sandingkanlah aku dalam perjalanan ini dengan seorang cewek tidak terlalu cakep tak apa-apa tapi cantik (walah ngarep) dan ternyata akhirnya!!!!!!!………. doa aku tak terkabulkan (kapok rasain ngarepin yang enggak-enggak). Terpaksa aku harus bersanding dengan bapak-bapak yang ngaku seorang kontraktor di Jakarta yang berasal dari Madiun. Haaaahhh….. Baca entri selengkapnya »
Journey To The West
Mirip tagline di sebuah serial dari negeri tirai bambu, bahkan sempat ngetop di tahun 90an dan di siar ulang oleh salah satu tv swasta di tanah air. Sengaja judul diatas aku ambil, berkaitan dengan perjalananku beberapa hari kedepan. Mungkin setelah posting ini tampil aku sudah berada di kereta untuk pergi kebarat, cie
. Beneran kebarat tepatnya ke kota hujan alias Bogor. Lho nggak ada angin nggak ada hujan ngapain ke Bogor? bagi beberapa teman-teman dekat mungkin sudah tahu dalam rangka apa aku kesana, tapi cukup mereka sajalah yang tahu tak perlu di ungkap terlalu banyak biar nanti yang belum tahu tanya yang sudah tahu ya anak-anak? (kesurupan guru sd).
Sebenarnya perjalanan ini bukan yang pertama tapi rasanya itu lho yang bikin exciting kata orang jawa bilang (jawa yang mana???). Mulai ke sumedang bareng ini orang. Sampe ke jakarta sendiri bareng ma guru-guru yang habis diklat jadi trainer buat mata pelajaran IPS di Kota Batu. Rasa yang nggak bisa terlupakan. Aromanya…. rasanya….. mantap (lha kayak iklan penyedap rasa aja). Dan akhirnya kan kujalani lagi journey to the west part 2…. story coming soon…..
Hanya Sebait Doa
Masih teringat senyuman indah wajahmu yang selalu menyambutku kala aku sendang gundah
Masih teringat kata-kata manismu mengingatkan ku tentang kerasnya kehidupan
Masih teringat tanganmu yang selalu membantuku berdiri ketika aku jatuh
Ibu……
Tak terasa baru kemarin aku memelukmu
Tak terasa baru kemarin aku mencium tanganmu
Tak terasa baru kemarin aku menangis haru dipangkuanmu
Ibu….
Kini engkau tlah pergi jauh
Jauh hingga aku tak mampu mencapaimu
Kini hanya kenangan indah tentangmu
Tentangmu yang selalu tersenyum dikala duka maupun suka
Kini hanya sebait doa yang dapat kuhaturkan
Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhuma kamaa Rabbayani shaghiiea
Selamat Jalan Ibu……..
Solusi Cerdas Akali Rapidshare
Wuih hampir 3 bulan nggak posting di blog, mohon dimaklumi beberapa bulan yang lalu banyak waktu tersita untuk mempersiapkan pendadaran dan skripsi (walaupun sampai sekarang masih). Sebelumnya saya mengucapkan Minal Aidin Wal faidin Mohon Maaf lahir batin walaupun agak telat :p (bukan agak tapi amat sangat). Kali ini ada inspirasi khusus dari beberapa artikel yang sempat saya baca di internet salah satunya mengenai download di sebuah layanan file sharing.
Beberapa layanan penyedia file seperti Rapidshare dan Megaupload sudah bukan hal yang asing bagi para surfer. Namun karena keterbatasan downloads membuat penggunanya banyak melakukan cara-cara curang seperti mencuri username atau memakai software khusus untuk mengatasi keterbatasan downloads. Beberapa diantara software terkadang disusupi virus. Sekarang bukannya mau untung malah buntung. Baca entri selengkapnya »
Google Wave vs Facebook
Sempat terkezut setelah melihat screen shot dari web ini



