Cerita dari Barat bag. 01
Setelah meningat janji akan melanjutkan cerita yang sebelumnya, sekaligus menimbang untuk membayar janji yang telah diucapkan maka dengan ini saya memutuskan (weleh kayak bikin perpu aja) untuk bercerita tentang beberapa pengalaman yang saya alami di barat tepatnya di Buitenzorg alias Bogor. Walaupun cuma beberapa hari namun kenangannya itu yang tak kan terlupakan. Digantikan uang triliunanpun rupiah tidak akan menggantikan (kalau dollar mau). Jadi begono …..eh…begini ceritanya…..(jeng…..jengg…)
Saat di perjalanan
Setelah berangkat dari Malang kota tercinta ku dengan derai air mata dan gerimis hujan (lebai mode on) akhirnya kutinggalkan kota yang menaungiku selama hampir 23 tahun lamanya. Suka dan duka yang takkan pernah terlupa oh Malang….. engkau takkan ku lupakan. Sayup-sayup terdengar suara nyanyian
"Tunggu aku.... di kota Malangku..... tempat labuhan.... semua mimpiku.....".
Okay kembali ke dunia nyata. Perjalanan dengan kereta Gajayana yang mulai berangkat pukul 17.15 wib cukup lancar alhamdulillah tiada halangan suatu apapun, meskipun setelah stasiun Kepanjen ada sedikit insiden yang cukup bikin orang jantungan. Kereta diharuskan berhenti dan melambatkan kecepatan karena ada longsor di sisi kanan rel kereta sehingga agak sedikit miring ke kanan. Awalnya agak kaget tapi sih serahkan pada Allah lah toh hidup ini pinjaman kita tidak tahu kapan akan dijemput-Nya.
Setelah beberapa saat kereta kembali normal dan perjalanan cukup lancar. Tak ada peristiwa aneh hanya saja aku yang dari tadi berdoa mengharapkan, ya Allah sandingkanlah aku dalam perjalanan ini dengan seorang cewek tidak terlalu cakep tak apa-apa tapi cantik (walah ngarep) dan ternyata akhirnya!!!!!!!………. doa aku tak terkabulkan (kapok rasain ngarepin yang enggak-enggak). Terpaksa aku harus bersanding dengan bapak-bapak yang ngaku seorang kontraktor di Jakarta yang berasal dari Madiun. Haaaahhh…..
Hari Pertama
Setelah turun di Stasiun Jatinegara hawa panas kota jakarta sudah terasa. Sudah jadi ciri khas kota megapolitan yang satu ini, layaknya kata pepatah jakarta gak panas apa kata dunia……
Beberapa saat kemudian langsung saja sms aja kakak sepupuku, Mas Wawan yang sudah melanglang buana di jagad kota metropolitan mau berkenan menjemput adiknya yang kurang kerjaan di hari minggu nggangguin orang istirahat untuk minta dianter ke Tempat PUSDIKLAT. Setelah menunggu beberapa jam (maklum Jakarta nggak hari kerja nggak hari libur teteup macet…..kecuali lebaran, tapi entalah karena belum pernah ke jakarta saat lebaran) akhirnya jemputan datang dan langsung meluncur ke TKP dengan sepeda Hon** Su*** yang dulu pernah di kendarai sewaktu abangku masih kuliah di Malang. Sempat tanya juga jarak antara jatinegara ke bogor, kata kakakku ini hampir sama jarak surabaya – malang. Jeduaaar….. bak petir di siang bolong, aku terkesima mendengarnya tak terasa keringat dingin pun menetes (lebai…lebai….) kebayang saat pertengahan desember tahun lalu ketika harus mengikuti tes di surabaya, nggak kuku pantat rasanya mau kebakar. Kalau ada air mungkin sudah main masukkin aja tuh pantat.
Meter demi meter di lalui, kilo demi kilo terlampaui eh tiba saatny
a istirahat, seep berhenti di dinggir jalan ditemani segelas es degan yang mak nyuss melewati kerongkongan, nikmat….
Perjalananpun lanjut hingga sampai ke boitenzorg dan sampailah pada yang dituju Pusdiklat BPN Ri. Awalnya agak sangsi, bener nggak sih ini pusdiklat kayaknya waktu liat di google maps besar deh????? Ah nggak masalah yang penting dah tahu dan ada papan nama yang CUKUP keciiilll sekali bertuliskan pusdiklat bpn ri. Sempat ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung yang cukup dekat dengan gedung pusdik, kalau hari ini nggak bisa langsung lapor. Weks….. sudah kebayang untuk tidur di kasur empuk dan menikmati es kepala ehh kelapa muda, akhirnya pupus sudah. Dan kami pun harus kembali untuk ke rumah kakak sepupuku, sebenarnya sebelum berangkat memang sudah ada rencana kesana cuma agar biar lebih afdol liat tempat dulu lah.
Hari Kedua
Setelah harus bangun jam 3 pagi karena harus numpang lagi sama Mas Wawan (ini orang kerjaannya numpang mulu..) karena beliau harus mengejar pintu tol karena katanya kalau udah jam 5 pagi tol sudah pada macet. nggak kebayang yaa kalau hidup di jakarta memang benar-benar harus cepat.
Sesampainya di stasiun jakarta kota langsung saja menuju loket penjualan tiket sepakbola antara persija dan pelita jaya….ya nggak lah mana ada stasiun jualan tiket pertandingan bola. Karena datang terlalu pagi akhirnya harus menunggu sekitar 2 jaman (wuiiih udah hampir jadi folis tuh) akhirnya dapat juga tiket dengan harga 11rb sudah dapat kursi di KRL Pakuan yang express tentunya (berdasarkan rekomendasi Mas Wawan, matur nuwun sanget luwih cepet gak mandeg-mandeg). Sesuai perkiraan kemarin saat ke bogor pakai motor agak lama 1,5 sampai 2 jam, dengan kereta ini juga sekitar 1 sampai 1,5 jam(entah benar apa nggak masalahnya sempat ketiduran juga waktu di KRL maklum ada ACnya seeh. Sesuai instruksi dari bapak penjual mie di samping pusdiklat untuk ke pusdiklat dari stasiun bogor pakai angkot 07 atau 08 dan karena masih ragu-ragu akhirnya tanya ke petugas dishub dan akhirnya juga membenarkan peryataan bapak penjual mie tadi.Setelah membayar 2 rb ke abang dan sedikit basa-basi soal cuaca bogor yang panas akhirnya sampai juga di air mancur yang jadi patokan buat sampai ke gedung pusdiklat. Dan disambut dengan tepuk tangan meriah dan ucapan selamat datang akhirnya aku sampai dengan selamat di Pusdiklat BPN RI… Mantap……
Masih hari kedua
Setelah dapat instruksi dari ipung temen baru kenal waktu daftar di BPN, nggak tahu kok langsung kenal aja. beberapa persyaratan harus diserahkan seperti surat sehat dari dokter plus undangan (undangan????) bukan sih surat panggilan.dan akhirnya dari kejauhan tampak sosok yang tidak asing lagi dengan kepala yang hampir licin tanpa rambut dan senyum serta tawa yang cekikikan ahhhh tidaaaaak….oh cuma Ipung ternyata.
. Ya Ipung anak asli malang juga (ngakunya nggak tau bener apa nggak) yang kenalan waktu ambil no peserta ujian BPN di Surabaya sempat juga kenal ama temennya yang aku lupa sekarang namanya. Kalau bukan insiden alumni SMUN10 mungkin nggak akan kenal ma ini orang.
Setelah ngobrol ngalur ngidul disitu aku mulai kenal ama Bang Sidik, Zuhri yang asli Medan, Heru asli Jogja, Guruh asli Sragen dan beberapa teman lain yang agak lupa (maklum udah tua cepet pikun), dating juga big boss yang satu ini. Dengan nyantainya tanpa liat sekeliling kalau hanya dia laki laki yang rambutnya nggak dipotong plontos. Akhirnya aku sapa
“Hi bro…..” sambil menyambut tangan kanannya untuk bersalaman aku bertanya
Dengan wajah tanpa dosa dia sedikit heran karena hanya dia yang masih panjang rambutnya dan tanya padaku
“Kapan potong rambut?”
Ya udah dari kemarin lah pak, kan sudah diperintahkan sebelum datang kesini. Akhirnya dengan wajah sedikit bingung dia coba mencari tukang potong terdekat dan kebetulan di situ ada tukang potong obyekan tapi masih antri banyak. Dengan intuisi yang cepat dia langsung naik angkot cari tukang potong deket situ, walhasil malah sampai ke daerah jembatan merah. Kata orang situ sih jauh banget. Wuuh nggak sangka mau potong aja sampai keteteran.
(bersambung…)
Karena sudah terlalu panjang nulis maka untuk terusannya tunggu tangggal mainnya…………


